Selasa, 15 Mei 2012

Inilah pengalaman pertamaku menjadi guru. Entah kenapa aku bisa kepincut menjadi guru. Bukan karena cita-cita atau berbakti kepada negara, tapi karena  kekecewakan terhadap prilaku orang tuaku. Sebenarnya keluargaku bukan orang sembarangan. Papaku seorang pengusaha, mamaku aktivis social, kakak-kakakku pun  menjadi pengusaha semua, Cuma aku yang bukan pengusaha. Bukan karena ortuku ga mau menyekolahkanku. Aku pernah kuliah bisnis di Amerika, Australia, bahkan Singapura tapi semuanya gagal karena aku terlibat narkoba dan diTarik kembali ke tanah air dan menjalani rehabiltasi di panti reabilitasi narkoba di sebuah pesanten di Jawa Barat. Ahamdulillah aku kembali ke jalan yang benar dan aku ingin mengabdikan diriku untuk mencerdaskan anak bangsa dengan sekolah guru. Syukurlah degan kemampuan bahasa inggrisku yang lumayan aku kuliah guru bahasa inggris hanya empat tahun, sehingga umur 23 th aku sudah menjadi guru bahasa ingris di sebuah SMA di Surabaya. Paman ku di Surabaya mengendalikan yayasan itu yang sebagian besar modalnya adalah milik papaku. Di sanalah aku dikirim papa untuk mengajar.
Aku mengajar bahasa inggris di kelas 11. Banyak siswa yang mengemariku dalam mengajar, bukan saja karena cara mengajar baasa inggrisku yang bagus, tapi karena aku sangat gaul. Banyak siswa yang tahu bahwa aku anak pemilik yayasan ini, begitu juga dengan guru-guu, yang tahu anyalah pamanku saja. Aku jarang ngumpul dengan guru di kantor saat istirahat, tapi sering ngumpul dengan siswa baik di kantin maupun di ruang osis, atau ruang band. Kebetulan aku suka music dan pandai bermain music, gitar, organ ataupu drum. Tidak hanya siswi cewek yang dekat denganku tapi juga cowok, karena aku sering bermain band dgn mereka, salah satunya Andi salah satu pemimpin band sekolah. Di rumah dia punya studio band, maklumlah dia anak orang kaya, anak pejabat. Aku sering bermain band di rumahnya, aku sering memegang gitar. Joni siswa kelas 11 organ, Andi drum, agus bas. Saat bermain dirumah Andi hampir semuanya membawa ceweknya, Andi dengan Susi, Agus dengan Mila dan Joni dengan Nova, Cuma aku…. Ah ha masih sendiri.
“ Pak, bu Yanti nggak diajak?” Tanya Nova disangka aku pacar bu Yanti guru bahasa Indonesia, padahal tidak.
“ Ah bisa aja kamu, gak kok, bapak belum ada ni.” Jawabku
“ Pak, kan tau Tari ?” Tanya Susi
“Ya, masa orang cantik bagaimana bapak ga kenal, Yang duduk sebangku dengan kamu kan? Anak kelas 11b? Emangnya kenapa?” jawabku mencecar.
“ Gak, pak. Sebenarnya dia ada hati degan bapak lo.”
“ Oya?” aku pura-pura kaget, padahal aku juga sudah ada filling karena setiap aku mengajar matanya selalu menatapku dengan penuh arti. Siapa yang gak berbunga-bunga disenangi cewek secantik Tari yang putih. Rambutnya panjang, tingginya 165 seimbang denganku yang 170, dadanya ya… 34 lah dan emmm… pinggulnya sintal mengiurkan. Tadi saat istirahat aku sudah ngobrol bareng dengan Tari. Susi yang nyomblangi. Bahkan sepulang sekolah kami sudah janji bermain band di rumah andi. Sementara  Susi, mila dan Nova adalah penyanyi band itu.
Mobil Suzuki Katanaku sudah memasuki rumah Andi yang besar, biasalah ayah ibunya amak sibuk pasti ga ada di rumah. Anak –anak sudah bermain , terdengar bunyi drum itar dan organ, aku  ke ruang studio Susi dan Tari sudah menunggu di depan pintu studio.
“ Udah sana ngobrol di teras” katanya kepadaku.
Akupun dengan Tari yang masih berseragam putih abu-abu duduk dan ngobrol ngalor ngidul di teras depan yan suasananya cukup romantis. Tari terlihat amat pendiam.
“ Ri, mau ga kamu jadi pacar saya?” tanyaku. Tari menunduk tak menjawab. Kata orang kalo tidak menjawab berarti iya.
“ Kok ditanya diam aja?” desakku.
“Tari takut ,Pak!” jawab Tari pelan
“Jangan panggil Bapak dong, panggil mas. Kan usiamu dengan saya cuma selisih 6 tahun, Tari 17 tahun kan .”
“Percayalah aku tadak mempermainkan  kamu?” kataku sambil memegang tangannya. Dia tertunduk malu dan hanya mengangguk, kuTarik tangannya,  kepalanya malah menyandar di dadaku yang bidang, rambutnya yang panjang dan harum merangsang birahiku. Kubelai rambutnya, kukecup keningnya. Dia hanya terdiam dan memejamkan matanya, aku semakin bergairah. Kukecup bibirnya, dia pun terdiam pasrah. Bahkan lumatan bibirnya yang romantis semakin bergairah, tangan kananku meremas dadanyanya dia pun diam tidak menolak, sampai-sampai tanganku turun kebawah mengelusap pahanya yang terbalut rok.  Diapun terdiam pasrah, sampai tanganku ke pangkal paha menyetuh cdnya. Heran dia tidak menolak. Munkin karena dia udah terlanjur gandrung kepada ku dan juga dia sudah siring mendengar cerita susi yang serimg bermain cinta dengan si Andi.
“ Silahkan diminum mas.” Pembantunya Andi membuyarkan kemesraanku yang membawahkan minuman.
“ iya ya mbak.” Aku gugup, Tari memperbaiki duduknya dan merapihkan rambutnya. Pembantu pun kembali ke dalam. Aku minum air yang disediakan diikuti Tari.
“ Kita ke studio yuk” ajaku. Taripun mengikuti. Di studio tak terdengar lagi suara band. Kemana anak-anak itu. Ketika ku buka pintu. Masya Allah. Di sofa Susi sedang dientot Andi, sementara  didepannya Nova sudah tak berbaju buah dada disedot Joni, sedangkan di pojok ruangan Mila dan Agus sudah tak berbusana mengerjai Mila sambil berdiri.
“ Aaah!” Tari tersetak sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya dan mendekap di dadaku. Aku memeluknya dan membawanya kekeluar.
“Kita pulang yok1”, ajakku. Tari mengangguk. Waktu baru jam tiga sore. Mobilku sudah menuju ke halaman rumah Tari. Rumahnya cukup luas. Maklum rumah kampung. Di rumah ada warung. Bapaknya nganggur. Buat sehari-hari hanya berdagang. Di rumahnya aku disambut bapaknya.
“Kok sore amat pulangnya ,Ri?” tanya bapaknya
“Ikut ekskol pak, oya ini guru Tari pak!” Tari mengenalkan ku kepada bapaknya.
“Ahmad” jawabku sambil menyodorkan tanganku ke tanganya untuk bersalaman.
Aku ngobrol bersama bapaknya. Dia senang dengan ku, karena sikapku yang tidak kasar,bahkan aku sempat sholat ashar bersama bapakya di rumahnya. Gimana agak percaya dengan saya. Kaena selain ganteng, aku ga ada tampang brutal.
“ Itu si Tari pulangnya sore terus, ada apa si di sekolah? Kemarin mal pulang jam 8 malam” kata bapaknya.
“Oya pak di sekolah kami banyak kegiatan, pak”.
Menjelang magrib aku pamit dan Tari mengantarkuku ke mobil. Didepan pintu rumah tatapan mata kedua orang tuanya penuh harapan, semoga aku bias menjadi menantunya, begitu hatiku menebak. Karena penampilanku yang kaya, baangkali.

Aku yakin nanti malam Tari akan terbayang-bayang tentang kejadian di rumah Andi. Ku sms, “ayo sedang apa?” begitu bunyi smsku. “Belajar” katanya. “Belajar becinta” balasku.” Ah bapak biasa aja.” jawabnya “Kok bapak lagi. Mas dong.” Pintaku d isms. “ Oya mas Ahmad deh.” Katanya lewas sms.
Aku berjanji pagi-pagi menjemputnya tapi tidak dirumahnya hanya di tempat biasa Tari nunggu angkot jika mau pergi ke sekolah. Waktu yang ditunggu pun tiba. Aku melihat Tari sudah menungu. Dia langsung menaiki mobil zip katanaku. Didalam mobil aku mengajaknya untuk bolos sekolah. Dia pun setuju. Aku sangat yakin dia sangat ingin bermesraan denganku tapi malu. Aku mengajakmya ke rumahku, dia mengangguk. Di Surabaya aku tinggal serindirian di rumah yang dibeli ortuku yang hanya tingali jika keluargaku ke Surabaya. Rumahnya di kawasan elit. Saat ini berarti rumah ini menjadi milikku. Kalau bukan pengusaha pasti mungkin tak terbeli rumah sebagus itu.
Pas di depan rumahku aku turun membuka pagar garasi, mobilku masuk, pintu pagar garasi kembali kututup, lalu pintu garasi dalam kubuka, mobil masuk dan kututup kembali dari dalam. Pagar sudah tekunci. Pintu garasi tertutup. Aku bukakan pintu Katana ayo tuun Taripun turun, dari dalam garasi ada pintu dalam yang tembus ke ruang tengah dan dapur. Ku buka sepatuku dan kutaruh di rak sepatu. Tari pun mengikuti  dan meletakkan sepatu MBnya di rak tersebut. Ketika dia berbalik dia kaget, saat mataku menatapnya. Sesaat kami berdiri kaku saling memandang, kuteguk air liurkku sejenak, Taripun menundukkan kepala. Kupegang kedua tangannya.
“Aku sayang kamu, Ri.” Bisikku. Tubuh Taipun langsung lunglai mendekapku tak bisa berkata apa apa. Spontan kedua tanganku membalasnya dengan pelukan mesra. Sesaat kami saling memeluk saling menumpahkan rasa sayang. Kubelai rambutnya yang panjang sepunggung. Lembut dan harum. Birahi nakalkupun tumbuh saat tangan kiriku merasakan tali bh dibelakang punggung yang tebalut baju seragam putihnya tanpa mengenakan kaos dalam, sehingga terlihat jelas tranparan dari depan bhnya yang berwarna cream.
Kuangkat dagunya dgn tangan kananku. Sesaat mata Tari yang sayu memandang kemudian memejam dan secara naluri bibirnya yang merekah kukecup. Terdengar desahan napasnya yang mengemuruh. Aku yakin dia baru pertama kali melakukan ini. Beda dengan ku yang sudah terlalu sering memerawani gadis. Tentunya dengan Tari memang sangat bebeda. Biasanya aku selalu dapat cewek yang agresif dan liar. SemenTari Tari begitu pasrah dan lugu. Dekapan tanganyapun semakin erat kurasakan ketubuh seolah dia ingin menyatu dengan tubuhku
Tangan kananku mulai turun dan mengusap pinggulnya yang masih tebalut rok abu-abu. Terasa olehku garis pinggir celana dalamnya yang menyiplak di bagian luar roknya. Inilah membuat penisku tegang. Pikiranku mulai ngeres. Apalai dia begitu pasrah saat bibirku menyapu lehernya yang jenjang terus ke bawah , tanganku membuka satu kancing  atas baju seragamnya hingga memudahkan bibirku menyapu belahan dadanya. Dia pasrah tak menolak sama sekali. Kubuka satu kancing atas baju putih itu sehingga branya yang cream cerah itu terlihat menutupi dengan indahnya buah dadanya yang padat berisi. Kurasakan dengan hidungku pinggiran branya , kucium bagian tengah branya yang tipis hingga bibirkupun merasakan puting itu dari balik bhnya yang terbuat dari bahan kaos dengan sedikit berenda bunga dipinggirnya membuat bh itu begitu indah untuk dipandang. Kudengar jantungnya berdegup kencang,  dadanya turun naik, napasnya begemuruh keras menandanya dia sudah masuk di pinggir surga. Kalau sudah begini biasanya cewek manapun akan pasrah untuk diapakan saja, yang jelas akan senang untuk dibawah melayang ke surga dunia. Inilah yang sebut nafsu birahi. Tentu bagiku yang banyak makan asam garam bermain seks, tidak ingin kuselesaikan permain ini selekasnya seperti pengalaman saat aku di Jakata atau kuliah di negeri orang. Ini pengalam pertama Tari. Aku ingin memberi kesan yang terindah baginya. Anggaplah sepeti malam pertama.
“Ri maukah kamu jadi istri saya?” bisikku. Dia kaget menatapku.
“Kenapa kamu mentap beitu?”
“Tari takut dipermaikan, Mas” desanya
“Percayalah, aku akan selalu bersamamu” kataku. Diapun diam dan semakin erat dekapannya didadaku
“Coba  jawab Tari, mau ga kamu jadi istriku ?” dia memandang, lalu terdengar, “ Kan Tari masih sekolah Mas, masa harus putus sekolah”
“Ya maksudnya mulai sekarang anggaplah kita suami istri dan begitu kamu lulus kita akan menikah.” Kataku. Dia pun semakin mengawang-awang tak menjawab kecuali pasrah saat kembali bibirnya kucium. Sekarang semakin mesrah dan mesrah sekali. Cium demi ciuman bibirku disambutnya dengan amat mesra, tidak liar, Terkadang bibirku menyapu lehernya yang jenjang. Diapun membalas dengan pejaman mata dan desahan sementara kedua tangannya erat memegang kepalaku saat ku kecup bagian belakan telinganya. Dia tak merasakan sedikitpun saat jari tengah dan ibu jari tangan kananku membuka kancing rok abu-abunya yang tak bergesper. Bahkan saat kuturun retseletingnya dia hanya mendesah saja, kecupan bibirku kadang di dada, leher, balahan dadanya, di telingan dan bibirnya. Rok itu tidak segera turun karena tertahan himpitan tubuh kami yan saling berpelukan. Dengan tangan pula kukubuka kancing baju kemejaku hingga terlepas dari tubuhku. Saat itu pula,  turun pula roknya ke lantai saat aku melepas bajuku. Tari yang menyadari dadaku, sekarang terbius dengan dadaku yang bidang. Bahkan merebahkan kepala pas ke dadaku dan kusambut dengan pelukan mesrah dan romantis. Kembali kami berciuman dan kubelai rambutnya, punggungnya dan turun ke bawah mengelusi pinggulnya yang tetutup celana dalamnya yang berwarna  merah terang, sepeti merahnya bendera Indonesia. Saat tangan kananku meraba dan meremas pantat yang berlapis cd merah dia baru menyadari kalau roknya sudah di ujung kaki. Spontan bibirnya melepas kecupan dari bibirku dan ingin mengambil roknya di lantai dan memakainya kembali .Tapi kedua tanganku dengan sigap mencegahnya dan memeluknya kembali
“Ri aku sayang kamu, aku ga mau lepas darimu” kataku dan rontaan kembali melemah dan merebah kepalanya kedadaku.
“ Ya mas tapi saya mau makai rokku dulu”
“Lo kok dipakai lagi bukankah kita ingin merasa sepeti yang kamu bayangnya smalaman. Ingin merasakan seperti yang susi, mila dan nova rasakan besama pacarnya. Ri kamu sekarang udah jadi istriku. Rumah ini milik ortuku juga milikmu. Nanti kita akan melaku di disini dan sekarang disini” kataku menjelaskan.
“Tapi aku takut hamil, mas”
“Kalau kamu hamil, aku akan tangung jawab. Lagian aku jamin kamu ga hamil dulu sebelum kita menikah. Tenang aja aku tau bagaimana caranya supaya ga hamil.”
“Benar?” Tanyanya matanya menatapku. Aku mengganguk dan kembali bibirku mengecup bibirnya dan turun mengecup buah dada yang masih terbungkus rapi dengan branya. Bajunya sengaja tak kubuka semua. Masih menyisakan tiga kancing dibawahnya sementara 2 kancing diatas sudah terlepas. Dia ingin mengancing kembali tapi kucegah dengan tanganku
Aku ingin menikmati dadamu yang indah. Dan kepalaku memedam dibelah dadanya yang terbungkus bh dan baju seragam putih. Sementara tangan kananku meremas dan membelai pantat yang terbungkus cdnya. Penisku protes tak enak merasanya kemesrahan karena terhalang cd dan celana panjangku. Kubuka celana panjangku. Langsung saja penis ku menyembul dari balik celana dalamku. Kurasakan celana dalamnya Tari yang merah bergesekan dengan penisku dibalik cdku. Hangat dan seperti ada getaran tersendiri. Terasa seperti mengawang-awang. Semakin digeseknya  semakin nikmat  dan nikmat. Lumatan bibirku di dadanya,  di bibirnya,  leher, belahan dada, di punggung, pinggul. Gesekkan kedua pangkal paha yang berlainan jenis itu telah benar-benar membawa kami ke surga. Tapi seperti yang aku inginkan hari ini, aku ingin membuat malam petama bagi Tari di pagi cerah ini di rumahku.
Kulepas kecupanku di bibirnya. Bibirnya  menggaga. Heran tak mengerti dengan perlakuanku disaat dia sedang diamuk birahi tiba-tiba kuputus. Dadanya naik turun, napasnya tesenggal-senggal. Jantungnya bertak keras. Ada apa ini. Ya, aku tidak ingin  melakukan ini tidak dengan nafsu yang liar seperti cewek-cewekku terdahulu. Tapi aku ingin lakukan kemesraan ini dengan penuh keromantisan. Biarlah setannya pergi jauh dulu.
“Ri kamu udah jadi istriku, maukah kamu menganggap ini adalah rumahmu.” Seperti biasa dia tak menjawab hanya merebah kepala di dadaku. Napas sudah mula tenang, jantung kembali stabil.
“Aku belum sarapan, kamu juga belum kan ? Kamu kan bisa bikin indomie buat kita berdua.” Pntaku. Dia melepaskan dekapan dari dadaku dan kembali menatapku serta menjawab dengan anggukan.
Dia ingin mengambil rok dan memakainya. Tapi kularang. “Jangan dipakai dulu biar hari ini menjadi suga dunia kita. Yuk aku tunjukan dapurnya.” Kuantar dia ke dapur dan tempat menyimpan indomie. Diapun memasaknya tanpa rok dipinggulnya bahkan bajunya dibiarkan 2 kancing atas terbuka sepeti biasa. Aku membereskan pakaian kami yang berserak di lantai dan kuletak di hangger dalam kamarku. Dan aku  kembali kedapur. Ku lihat dari belakang Tari yang asik memasak indomi, meyiapkan mangkok dan sendok. Kutelan air liurku saat kutatap pinggulnya yang tetutup celana dalam merahnya. Benar-benar bahenol. Tali bh belakangpun  terlihat jelas transparan dari seragam putihnya. Kupeluk dia dari belakang. Dia tidak kaget. Bahkan tetap asik memasak indomie yang hamir matang. Kubisikan di teliganya, “Ini pelayananmu pertama sebagai istri meyiapkan makan untuk sang suami, yang kedua pelayanan batin sang suami.”
“Ah mas “ desahnya  saat dada yang berbalut bh kuremas dengan tangan kiri sementara tangan kanan mengelus paha dan memeknya yang agak basah berbalut cd. Sementara penisku semakin tegang dan hangat di dalam cd ku saat menyentuh pinggul Tari yang berlapis cd merah, semakin ditekan semakin nikmat.
“Ri kita makan satu mangkok berdua” kataku saat dia menuangkan mie ke mangkok. Lalu kami makan mienya sambil duduk berpangkuang di ruang makan. Kami saling menyuap. Tanganku nakal mengelus paha, celana dalam Tari dan meremas buah dadanya.Taripun  lirih dan tersipu sipu saat kami saling memberi rangsangan. Tari seperti sudah larut dalam suasana, padahal kami baru berkenalan dan saling bejanji hidup besama. Taripun seakan terlarut bahwa kami seperti suami istri dan seperti sering melakukan ini. Padahal belum, ini baru pertama kali. Adikku, si penis ingin sekali merasakan liang surga vagina Tari yang terbungkus cd diatas pangkuanku. Dalam pangkuanku kembali kukecup bibirnya. Kali ini seragam putihnya kubuka semua dan kulempar jauh ke pojok kamar makan.  Kuremas dadanya dalam bra cream.  Kucium bh itu.
“Aah mas,” desahnya. Tari berdiri dan mengambil mangkok untuk di taruh ke wastapel. Aku mengejarnya . dan kembali  memeluknya. Setelah meletakan mangkok di tempat cucian piring.  Tari berbalik dan kembali  kukecup bibirnya dan kupeluk mesra tubuhnya yang indah itu. Kali ini justru aku yang semakin tak sabar untuk membobol gawangnya Tai yang masih rapat tertutup celana dalam merah. Mudah memang untuk merosotkan, tapi aku lebih memilih untuk pemanasan dulu dengan saling membelai meremas dan mengecup, sehingga setiap sentuhan meyalakan api asmara kami, sampai nantinya akan membakar kami dalam lautan api cinta. Kedua tangan kiriku membelai punggung Tari, sementara yang kanan menelusuri pantanya yang bercd merah.  Sambil berciuman  tangan kananku menikmati halusnya  cd meah Tari. Menelusuri pingiran cd itu, turun mengusap usap kedua pahanya kiri dan kanan bergantian dari dengkul hingga  pangkal paha dan menyentuh memeknya yang masih terbungkus cd merah. Terasa tanan kananku merasakan cd itu telah basah. Penasaran tanganku masuk menyusup masuk ke cd Tari. Tari melenguh tapi tidak melepaskan bibirnya dari ciumanku bahkan semakin erat peluknyan saat telapak tanganku mengelus memek yang baru ditumbuh bulu halus. Hangat rasanya.  Sementara tangan kiri membelai punggungnya yang putih mulus tanpa cacat. Terasa tali bhnya, bukan penghalang bagiku tapi inilah pelengkap kenikmatan bercinta. Kecupan kami turun ke leher dan ke dada yang terbunkung bh, lalu dengan kedua  tangan kubuka pengait bh yan berada dipunggungnya. Maka terbukalah apa yang selama ini disembunyikan Tari di dadanya. Dada berukuran 34 tidak kecil juga tidak besar. Serasi dengan tubuhnya yang 165. Sambil berdiri kukecup dada itu kanan dan kiri lalu putingnya ku sedot, kugigit kecil putting dari kiri ke kanan dan sebaliknya, sementara kedua tanganku meremas remas pinggulnya. Kedua kaki Taripun mulai bergetar tak tahan menyanggah tubuhnya  yang berat karena api cinta dan tersandar ke tembok dapur sementara  mulutku terus menikmati buah dadanya yang ranum, dan tangan  kananku mengelus-elus memeknya dari balik cdnya. Kini kami sudah dimabuk asmara, desahan napas kami seperti napas kuda. Kembali kekecum bibinya mesrah. Tangan kananku menurunkan cd meranya hingga dengkulnya lalu dengan kaki kanan ku kuinjak cd itu hingga lepas dari kakinya. Lalu ku buka cdku sendiri dan menyembullah adik kecilku bediri tegang 20 cm panjang  dengan  garis tengah 5 cm. Tidak besar dan panjang tapi cukup untuk memberi kenikmatan bagi gadis seumur Tari yang masih virgin. Penisku menyembul nyembul menyetuh memeknya yang hangat saat masih berdiri berpeluk erat mencium bibirnya. Mengesek geseknya menyetuh paha kanan dan kiri. Wah hangat dan nikmat. Sesaat  kulepas ciuman di bibir dalam keadaan berdiri berpelukan kami saling memandang dan menelan air liu. Napasnya masih menyisakan engaan. Tatapan mata Tari , ngangga bibirnya yang  mengisyaratkan agar saya segera menyelesaikanya.
Kamu mau, tanyaku. Tari mengangguk. Lalu kubopong tubuhnya ke kamaku dan kubaring di sping bed berspray pink tanda cinta kami bersemi dikamar ini. Spray ini akan jadi saksi bukti cinta kamu berdua. Kulebar kedua pahanya agar adikku mudah masuk. Agak susar memang pertama, karena  Tari masih perawan dan penis ku  agak sedikit besar. Topi bajaku sdh siap di belah memeknya, ditekan seperti agak serat, tapi tak apalah kukecup lagi bibirnya, kuremas  dadanya dia agak mengerang dan pahanya terbuka hingga sedikit demi sedikit topi bajaku masuk 3 cm ke dalam memeknya kukenyot lagi dan dia  mengerang pinggulnya naik ke atas dan penisku masuk 7cm ku cabut 3 cm masuk lagi 10cm tinggal setengah lagi. Kurasakan hangatnya  bibir memek Tari, sepertinya darah sedikit keluar menandakan keperawanan sedikit terkoyak penisku
“Tari, aku sayang kamu!” bisikku. Tari menjawab dengan dekap erat hingga membuat penisku dengan sendirinya masuk ke dalam memeknya. Pinggulnya mengejang  naik menjadikan pantat kami saling berhimpitan hingga penisku telah masuk seluruhnya habis dalam memek Tari yang cantik itu. Aku rasakan dan kunikmat memek Tari yang berbeda degan cewekku yang lain karena baru Tari cewek yang perawan. Yut yut … yut dan hangat terasa di kulit kontolku. Ketika kunaikan pantatku bibirnya mala menyambar bibirku dan kamipun terbuai mengeluar masukan penisku ke liang memeknya sambil terus berciuman. Tiga puluh menit sudah kami bercumbu, darah perawan Tari tak dihirau telah menetes di bawah spray pink, kini berganti dengan kenikmatan yang tiada tara. Empat puluh lima menit sepertinya penis akan menyeprotkan sperma, ku tahan sebentar di dalam memeknya, aku berpikir apakah aku akan mencabut dulu kontolku dari liang kenikmatan Tari kemudiam memakai kondom yang telah kusiapkan atau kukeluarkan sperma diluar liang vagina Tari agar tidak terjadi kehamilan di kemudian hari. Napas kami yang tadinya naik turun tidak karuan, kini mulai stabil kembali karena aku menahan tidak mengeluarmasukkan penisku tapi kutahan sejenak di liang itu. Mata Tari pun muliai terbuka,  kusambut tatapanmatanya dengan senyuman dan dibalasnya pula denga senyuman manisnya. Bahagia sekali rasanya kami bermesraan ini. Aku yakin dia sudah keluar, terbukti liangnya semakin licin oleh cairan.
“Ri, kamu mentruasinya berhenti tanggal berapa?” tanya ku.
“Baru tiga hari lalu mas!” jawabnya sambil memelukku. Berarti sekarang bukan masa subur. Artinya kalau sperma kukeluakan di dalam memek, tidak akan hamil. Wa benar-benar kebahagian yang tiada tara. Artinya dapat kenikmatan yang tidak terputus. Maka ku putuskan untk mengeluarkan spermaku di dalam memeknya. Bagiku berniat hari ini akan kujadikan satu hari penuh ngetot bersama Tari. KuTarik kembali  penis, kumasukkan kembali. Tak terasa waktu sudah  1 jam dan sepertinya kenikmatan sudah di kepalaku. Aku sebenar bisaa menahannya tapi aku tidak lakukan. Kami berpelukan erat dan dorongan pantatku naik turun semakin cepat dan seperti spermaku sudah di ujung topi baja dan …aaaahhhh…. crot… cret… crooot. pantatku menekan keras kebawah sementara  pantat Tari menekan keras ke atas. Sesaat kami menegang  berdekapan erat dan bibir kami saling memanggut. Napas kami saling bergemuruh dan perlahan-lahan melemah dan stabil lagi.  Aku tergolek lemah di samping tubuh Tari  sambil memandang ke atas. Tapi anehnya senjataku tetap tegang, kerena memang sebelum menjemput Tari dari rumahnya, aku minum jamu jakban dan kapsul black ant 2 kapsul. Hasil terbukti penisku tidak loyo, cuma telingaku dan tubuhku agak hangat.Kuliat mata Tari meneawang ke atas, air mata menetes di sebelah matanya
“Kenapa?” tanyaku padanya
“Saya takut, Mas akan meningalkan Tari.” Jawabnya.
“Percayala sumpah samber geledek, saya tidak akan meninggalkanmu” rayuku menyakinkan hatinya yang gundah sambil mencium kembali bibirnya  mesra dan meremas-remas teteknya yang keras munjung trgak ke atas.
Tari pun bangun kemudian ke kamar mandi mencuci memeknya, begitu juga aku. Kucuci kontolku yang masih tegang. Sesaat Tari bejalan ke dapur mengambil celana dalam dan branya yang beserakan dilantai ruang makan kemudian memakainya. Aku mengikutinya dari belakang tapi aku tak mengenakan celana dalamku. Dalam keadaan telang bulat aku berdiri di pintu dapur. Kuliat tubuh Tari yang sudah mengeanakan bh dan cd membuka  kulkas mengambil air dingin dan meminumnya. Kuikuti  Tari dan kutekuk juga air yang diambilnya dari kulkas
“Kok celana ga dipakai mas?” Tanya menenggok  melihat senjataku yang tetap tegar.
“Ga ha, kan mai main lagi.” Jawabku lancer.
“Ah, emannya ga cape, Mas?” sambungnya.
“Ga tu liat aja, adikku masih tegak.” Kataku. Memang kontolku masih berdiri tegang. Waktupun jam dinding masih menunjukkan jam 10 pagi, arti kita bisa menikmati sekali lagi dan rencananya jam 12 siang aku akan mengaajak Tari ke mall untuk beli pakaian dan jam 3 sore  baru pulang. Jam 4 kembali ke rumhku untuk ngentot lagi barang sekali. Karena aku benar -benar kecanduan mau ngewekin memeknya Tari setiap hari.
Akhirnya kuTarik  kursi makan, kuletak kaki kiri Tari di atas kursi kemudian ku usap cdnya, kusibakkan sedikit pinggirnya, hingga terlihat belahan memeknya. Kontolku yang masi tegang kuarahkan pas di depan memeknya dannnn… tekan sedikit demi sedikit jadilah gaya ngentot berdiri sambil berciuman tanpa  melepaskan cd dan branya ah…. Nikmatnya  orang ngewe. Kulaku ini sambil berpelukan mengusap punggung dan pinggulnya masih tertutup cd merah. Tiga puluh menit sudah pantatku maju mundur. Kali ini lebih lama dari pertama. Mungkin karena tenagaku tak semenggebu petama hanya dorong seks saja yan masih sama. Hampir 1 jam sudah kugenjot memek Tari. Lalu ku gendong Tari tanpa melepas kan memek dari patokan  kontolku. Kubawa keliling ruang dalam rumahku dari depan belakang bahkan sampai garasi dalam. Yang kurasakan adalah halusnya cd merah Tari ikut membuat libido tak tuun sedikitpun.  Satu setengah jam sudah kami melakukan hubungan badan ini, spermaku hampi keluar, kubaringkan dia di sofa depan. Dan kutindih kembali tubuhnya yang polos itu. Kontolku semakin cepat mengeluarmasukan di dalam memeknya. Ketika spermaku mau keluar, kucabut kontolku dari liang vagina Tari dan kukocok dengan tangan kananku maka cairan kental spermaku muncrat crotttt …mengenai wajah Tari, yang kedua ctreeet …kena bhnya,crtttt…. perutnya basah oleh maniku dan terakhir sisanya  mentetes di cd merahnya  stttttsss….Mataku berkunang-kunang dan ambruk loyo.

Waktu sudah menunjukan jam 12 siang, seperti janjiku akan mengajak tari ke mall. Tari pun telah menyiapkan baju pengganti di tasnya bukan baju seragam melainkan dia mengenakan celana panjang jean dan t shirt. Kami berangkat, pertama makan siang duludi mc donal, baru kemudian memili baju yang akan dibeli dan yang pakai penting membeli bh dan celana dalamyang sesuai keinginanku. Tidak macam model bukan string yang sebenang atau thong yang lebar seperti celana pendek.  Aku tidak suka model itu, tidak natural. Biasanya aku cocok cd atau bra merk Wacoal seperti yang ada di internet youtube  Wacoal panty, ada putih , hijau, biru kuning atau pink, begitu juga bhnya. Hampir 2 juta aku menghabis untuk belanja pakaian dan pakian dalam pacarku Tari. Tidak sebanding dengan gajiku yang cuma satu juta sebulan. Kerana papaku kaya didompeku banyak atm yang selalu disi oleh mama setiap bulan. Tidak sesuai rencana jam 5 sore aku baru kembali ke rumah ku. Tari semula menolak karena aku memintanya dia tak sampai hati menolakku. Sesampainya di rumahku ia langsung  menyiapkan  makan malam untuk kami bedua.
Selesai makan, selepas magrib dia mandi dan kusuruh menganti baju dan pakain dalam yang baru kami beli di mall. Kali ini aku memakan malam besama. Tari memakai blues tidur berwarna kuning. Sepintas terawang bra dan celana dalamnya. Aku yakin dia memakai bra dan celana dalam yang baru dibeli tadi, karena bra yang dan cd yang tadi pagi dipakai sudah kotor dan ada ditempat cucian kotorku besama cdku yang juga tadi aku pakai.
“Ri, kamu bell ortu! Bilang kamu nginap di rumah Susi!” pintaku.
“Malam ini aku tidak mau kehilangmu, please! Please !”  Dia memandang ke arah aku. Aku yakin dalam hatinya dia pun juga tidak mau kehilanganku. Apalagi kegadisanya sudah ku nikmati tadi pagi dengan amat mesra dan romantis.
“Ri. maukah  malam ini kamu bersama ku!” pintaku lagi. Awal menolak tapi karena rasa cintanya kepada ku dia turuti. Dia mengambil hpnya kemuadian menelpona bapaknya.
“Pak, maaf ya malam ini aku menginap di tempatnya Susi, karena aku kasihan ama Susi sendirian di rumah minta ditemani. Oangtua mendadak keluar Kota. Boleh ya Pak! Boleh ya !” desaknya kepada bapaknya.
Terdengar bapaknya  akhirnya mengizinkan walaupun berat, tetapi kraena Susi sudah sering main kerumanya dan sering bermalam di rumahnya, sudah dianggap saudara olehkeluarganya makanya bapaknya percaya. Ini berarti hari ini benar-benar malam pengantin bagi kami bedua. Spotan perasaaanku berbunga-bunga  langsung kupeluk dirinya dan ku kecup bibirnya yang segar merekah. Tanganku spontan meraba dan membelai tubuhnya yang berlapis blues malam. Terasa oleh tanganku tali bh dipungungnya dan tepian celana dalam di pinggulnya dari bali blues malamnya. Ingin asa aku menahan untuk tak membuka blus kuning gading, tapi karena rasa nafsu  yang besar akhinya blus itu turun ke lantai di ujung kaki-kakinya. Dalam keadaan berdiri berpelukan kubuka shot dan kaosku hingga kami hanya mengenakan pakain dalam saja. Aku memakai celana dalam. Tari menenakan bra biru muda yang amat serasi dengan celana dalamnya yang biru muda pula. Ini yang  membuat ujung penisku basah. Dalam keadaan berdiri kami saling berciuman dan saling memberi rangsangan degan membelai punggung, rambut dan pinggulnya. Sesekali kubelai pahanya yang jenjang. Kanan dan kiri bergantian. Napas kami mulai bergemuruh. Kuangkat tubuh Tari dan kuletakan di atas karpet lembut diruang tengah tempat aku biasa menonton  Tv. Kami berbaring berpelukan seakan tak mau kehilangan masing-masing. Bergulingan ke kanan dank ke kiri. Raba dada, memek yang masih terlapis kain biru muda. Sementara tv menayangkan adegan yang film yang sama kami lakukan. Karena aku mengunakan jaring parabola dan aku sering menoton film korea yang erotic itu. Kali ini pahanya yang kucium, kujilat dari dengkul hingga pangkal paha kanan dan kiri. Tak ketinggalan pula memeknya yang berlapis cd biru mudanya  basah kuciumi. Harum karena cd itu masih baru ditambah harum memeknya yang khas membuat rangsangan kami jauh melayang. Kubalikan tubuh Tari tampak punggungnya  putih mulus,  pinggulnya yang padat berisi berbalut  cd biru yang pas ukurannya dengan tubuhnya,  serassi melekat di pantatnya. Tak ada kerutan sama sekali. Penisku semakin tegang menuntut untuk segera diselesaikan.
Kusibakan rambutnya dari punggungnya tampak tali bhnya. Kubuka kaitanya kaena menghalangi sapuan lidah ku dipunggungnya dari atas ke bawah ke pinggang begitu seterusnya. Hingga pinggulnya yang masih terbungkus celana dalam itu tak lepas dari sapuan lidahkku.  Hingga turun kebelahan pantat bawah ke atas lagi dan beralih ke pangkal paha hingga dengkul, bergantian lagi ke paha kiri pangkal dan kembali lagi ke pinggul sintal yang mengemaskan itu. Keremas, kucium, kujilat Tari dengan gigitan lembutku celana dalam birunya. Begitu seterusnya hingga jam kali ini telah menunjukan pukul delapan. Untung tari sudah izin degan ortunya hingga kenikmatan bisa dinikmati seutuhnya tanpa putus. Kubalikan kembali tubuhnya. Kini giliran memeknya yang terbungkus cd kembali kujilati naik ke perut dan pusarnya yang kuserang dengan bibir dan lidahku. Naik lagi ke dada yang tertutup bra biru muda yang kuserang dengan bibirku. Bra itu masih baru pula harum baunya di ujung hidung tersapu bibirku. Dengan gigitan mesra  bra itu kulepaskan dengan mudah karena pengaitnya sudah kulepaskan sebelumnya. Tapat di hadapan mataku buah dada yang ranum yang tak disia-siakan bibir dan lidahkau. Kusapu dengan lidahku, kukeyot-kenyot puting kanan dan kiri, kucium dan jilat belahanya hingga ke leher dau turun lagi ke belahan dada dan begitu seterusnya yang membuat adik penisku tak sabar menuntut untuk dilepaskan dari sangka cdku. Kulepas cdku hingga aku sudah telajang bulat. Penis yang tegang menyodong-nyodok memeknya yang tebungkus celana dalam berbahan kaos nyilon biru muda. Bibirku dan bibirnya kini saling bepanggutan, berpelukkan. Dengan kedua dengkulku behasil melebarkan kedua pahanya hingga terbuka menyembulkan vagina yan agak besar munjung dari balik celana dalamnya. Dengan dua jari telunjuk dan tengah tanan kananku behasil  menyibakan pinggiran celana dalamnya hingga memudahkan kontolku masuk kebelahan memeknya yang lembut berbulu halus perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, hingga terbenam kontol yang 20 cm panjang kini berada dalam memek Tari yang hangat, terasa oleh kulit kontolku kontraksi  dalam memeknya perlahan, namun terasa benar-bena nikmat di ujung topi bajaku. Jembut di alat vital ku mengesek cdnya, memeknya dan sedikit bulu lembutnya.
Kunaikturunkan pantat dalam keadaan terbaring berpelukan, berciuman eat. Cd birunya  tetap menempel di pinggul, sehingga tangan kananku masih bisa meremasi pinggul dan membelai cd birunya. Tak terasa satu jam sudah kami terangsang nafsu birahi, dengan sekali tekanan, spermaku  menyeprot dalam memeknya, prottt… crottt, sesaat tubuh kami menegang dan lemas dalam keadaan bertindihan. Tv dengan tetap setia menampil film romantis yang  erotik dari parabolaku.

Tak terasa kami tertidur di ruang tengah. Aku baru terbangun ketika waktu menunjukan pukul satu dini hari. Tari tertidur di sampingku dengan mengenakan cd saja. Aku kasihan dengannya yang setia melayani kebutuhan aku sebagai laki-laki yang haus seks. Dia sudah amat lelah. Kuangkat tubuhnya ke spiring bed dalam kamarku, kubuka cd birunya yang basah, kulap memek dengan cdnya tadi. Kuselimuti dia. Dalam selimut dia kupeluk dan kucium mesra mata terbuka sesaat, bibirnya tesenyum sebentar padaku. Mungkin karena lelah matanya terpejam kembali. Tapi memang dasar nafsu kusumat, kontolku tak bosan-bosan ingin segera dimasukan ke liang memeknya. Aku kasihan dengan Tari yang tergulai lemah, sementara kontolku ga mau tahu. Akhirnya cara yang bijak, aku tidur bersamanya dengan cara  berpelukan dan membenamkan kontolku yang tegang ke dalamnya. Aku tertidur hingga pagi. Tapi anehnya kontolku ga tidur. Hingga aku terbangun pukul 5 pagi kontol tetap tegak dalam memeknya. Memang aku tetidur, dalam tidurku aku bermimpi bercinta dengan Tari. Mungkin inilah yang membuat kontolku tidak loyo. Nikmat memang semalaman kontol berada dalam memek. Tari tesetak dari tidurnya dan terbangun kaget.  Segera dia berajak dari tempat tidur hingga kontolku terlepas dari bibir memeknya. Dia berlari kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Kulihat kontol yang semalamanya dalam memeknya kulitnya menjadi agak putih bekas disekap semalaman dalam memeknya.
Akupun berlari ke kamar mandi bukan untuk madi besama Tari. Tetapi justru memeluk Tari dan mengajak becinta lagi, tapi kali ini Tari menolak.
“Mas aku mo ke sekolah, kemarin aku bolos.  Ga kan !” kata sambil mengambil handuk dan melilitkan ke tubuhnya untuk berjalan ke kamar. Aku agak kecewa memang, tapi aku harus mengerti, seharian kami telah melakukan 4 kali, bukan angka yang pantatis memang. Banyak pengantin baru melakukan sampai 7 atau 9 kali semalaman. Kubersihkan tubuhku dengan ini kumudian aku berjalan ke kamar sambil melap tubuh dengan handuk. Kulihat Tari sudah mengenakan celana dam putih dan bra putih yang juga baru dibeli di mall kemarin. Semua pas ukuran dengan tubuhnya. Dia menyisir rambutnya menghadap cermin, sementara seragam putih abu abu siap dipinggi tempat tidur. Kuambil sisirnya dan kubantu menyisir  rambutan lurus panjang sepunggung itu , kubantu keringkan dengan hair dryer. Tari hanya temanggu melihatku dari cermin didepannya. Seperti ada yag ingin dia katakan.
“Maaf ya mas, tadi bukan aku menolak tapi aku tidak ingin bolos aku kasian yang ortuku yang membiayai aku, aku takut  ga naik kelas!” katanya sambil diri menghadap cermin.
“Ga pa pa, aku tahu cape.” Kataku.
“Ga mas ga cape, Cuma ..” balasnya
“Cuma takut ga naik kelas dan oang tua mu marah, gitu kan!” kataku lagi menegaskan.Dia mengangguk mempenegasanku itu.
“Tari, sekolah itu punya keluargaku, sebagian besar modalnya milik papaku, Kalau masalah sekolah aku jamin mulai sekarang tanggungjawabku, dan setiap bulan akan kuberi kamu uang saku untuk  kebutuhanmu.” Sambungku. Spontan Tari membalik tubuhnya.
“Betul mas?” tanyanya, aku mengganguk dia kembali memeluk tubuhku, kembali kami berciuman dan berpelukan sambil berdiri. Terlihat olehku melalui cermin di belangkang, rambutnya yang hitam mengkilap lurus sepunggung menutupi tali bh belakangnya, punggung yang bersh dan pinggul yang sintal tertutup celana dalam yang putih bersih. Tak pernah bosan tangan kananku mengusap-usapn pantat yang telapis cd itu, sementara tanan kiriku membelai punggungnya. Kecupan kami terlepas.
“Mas mau lagi?” tanyanya mengajakku behubungan kelamin lagi.
“Kamu kan mo sekolah?” kataku
“Aku terserah mas aja, sekolah itukan milik orang tuang mas. Berarti tidak ada lagi menghalangi lagi kita bercinta walaupun waktu sekolah tergannggu. Iya kan mas?” jelasnya.
“ Sekarang kamu pintar” kataku langsung menyerbu bibirnya. Spntan kontol  tengang hingga menyetuh memeknya yang menyembul dari bali cd putihnya.
“Sebentar aja ya sayang, na ti kita berangkat sekolah bersama.” Kataku padanya. Ku buka bhnya. Kemudian aku jongkok untuk menurunkan cd putihnya dgn kedua tangan ku. Saat aku jongkok dan di hadapan mataku terpampang gundukan memek yang yang menyembul naluri laki lakiku timbul dan langsung mencium belahan memek yang berlapis kain putih. Kubenamkan seluruh wajahku ke belahan pangkal paha itu.
“Katanya sebentar !” terdengar suara Tari dari atas sambil tersenyum. Dan aku balas dengan segera menurun cd putihnya hingga lolos dari kakinya .  Kusuruh Tari agar tangan memegan pingiran meja rias dibelakangnya. Sehingga dia dalam posisi nunging. Kedua  kakinya kulebarkan hingga memudah kontol menjangkau belahan memekn yang menghadap kebawah. Biasanya kalo seks nunging orang memasukan penisnya lewat dubur lawannya, aku ga suka itu, karena seret dan kurang nikmat. Aku lebih suka kontolku yang tegang menghadap keatas kumasukan ke liang memek yang menghadap ke bawah. Gerakanku bukan sekedar maju mundur tapi maju mundurnya agak keserong ke atas dan bawah. Kulakukan ini agak perlahan. Dua puluh cm panjang kontolku, tidak terlalu pendek hingga bisa menjangkau memek Tari. Tari  tidak terlalu gemuk, 48 kg, tidak kurus juga tinggi tubuh yang 165 cm. Kupegang pantatnya sintal, kuelus pahanya kanan dan kiri kubelai pinggang dan punggungnya semakin lama semakin cepat gerakan dan dan napas Tari pun semakin terdengar, kakinya terasa gemetar, hingga kutarik tubuhnya yang padat berisi itu hingga  terduduk berpangkuan denganku dipinggir spring bed. Punggung menyandar lemas di dadaku. Buah dadanya kuremasi dengan dua tangan ku. Susah memang memasukan kontol dalam posisi duduk seperti.
“Ri duduknya berhadapa aja.” Pntaku. Tari pun bediri dan berbalik menghadapku. Kedua kaki nya menaiki   tempat tidur dan kemudian jongkok  aku membantu mengarahan kontolku dengan tangan kanan pas di belah memeknya yang mengangga. Hingga kontol ku masuk semua kedalam memeknya. Dalam posisi ini mulutku dengan lahap melumat seluruh buah dadanya. Sementara Tari menaikturunkan pantatnya hingga kontolku keluar masuk ke memeknya, kulihat dia semakin lama semakin tak kuat untuk menaikan pantatnya karena sudah terbakar nafsu, maka spontan kugendong dirinya dan meletakan pantanya diatas meja rias dan seketika itu pula botol-botol pafum di atas jatuh berserak di lantai. Aku tak perduli kutarik tekan kontolku ke memeknya hingga pelukan kami semkin erat dan menegang. Pantatku menekan keras ke memeknya, jembutku beradu dan begesekan dengan jembut halus milik memek Tari. Cairan kental pun muncrat ke dalam memek Tari. Sesaat kami berdekapan dan pelahan-lahan melemah. Kemudian kedua bibir kami saling mengecup mesra mengakhir pengamalan kami yang berkesan. Tari pun tersenyum paku.
Jam 7.30 kami berangkat kesekolah, terlambat memang, tapi di sekolah itu tidak ada yang berani memarah kami, karena sekolah itu adalah milik yayasan keluarga ku. Dan tanpa sepengetahuan siswa dan guru lain kami pun bertunangan ketika orang tuaku menenggokku ke Surabaya. Inilah yang membuat Tari begitu percaya padaku. Tentu saja selama hampir dua tahun kami melakukan hubungan suami istri tanpa kondom, keran Tari rutin suntik kb tiga bulanan. Bahkan ortunya tak melarang Tari menginap dirumahku, yang pentidak membuat malu keluarga, sepintas hubungan kami seperti biasanya di mata orang lain, alim dan tidak menunjukan tanpa-tanda intim. Tapi dibelakang permainan seks kami sangat memuaskan dan tak terlupakan. Selama itu pula melakukannya paling sedikit dua kali seminggu. Dimana saja. Kadang di mobil dalam garasiku, kadang di wc sekolah atau uang osis saat siswa dan guru lain belajar. Dan yang paling sering adalah dirumahku. Kadangdiluar saat kegiatan LDKS atau persami. Saat Tari lulus kami langsung menikah. Saat itu aku berusia 25 tahun dan Tari 19 tahun. Kini aku berusia 35 tahun dan telah menjadi kepsek, Tari telah memberiku 3 anak, petama berusia kelas 5 sd, kedua tk dan yang kecil baru dua bulan. Walaupun begitu kami tetap rutin melakukan hubungan suami istri setiap hari. Tubuh Taripun tidak berubah tetap cantik, seksi dan sintal, karena memang dia rajin beolahraga senam dan menjaga kecantikanya sejak dia sekolah dulu.

















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar